sains tentang kesadaran
apakah pikiran kita adalah hasil dari chaos sel saraf
Pernahkah kita berhenti sejenak dan menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini? Saat teman-teman membaca tulisan ini, ada sebuah "suara" di dalam kepala yang sedang merangkai dan membunyikan kata-katanya. Kita merasa dengan sangat yakin bahwa kitalah sang kapten utama yang duduk santai di balik kemudi tubuh ini. Tapi tunggu dulu. Coba kita belah tengkorak kita (secara imajiner, tentu saja). Apa yang sebenarnya ada di sana? Daging keabu-abuan yang lembek, basah, dan berada dalam kondisi gelap gulita. Tidak ada layar monitor kecil di dalamnya. Tidak ada kursi kapten. Lalu, jika di dalam sana hanya ada sekumpulan sel yang basah, dari mana datangnya si "saya" yang sedang sadar ini?
Pertanyaan semacam ini sudah membuat pusing umat manusia sejak zaman kuno. Berabad-abad yang lalu, filsuf René Descartes membelah dunia menjadi dua: materi fisik dan jiwa yang immaterial. Baginya, pikiran kita adalah hantu ajaib yang menghuni sebuah mesin biologis. Kedengarannya memang romantis, tapi sains modern punya cerita yang jauh lebih liar dan menantang logika. Mari kita lihat otak kita lewat lensa neurosains terkini. Di dalam sana, ada sekitar 86 miliar sel saraf yang disebut neuron. Semuanya saling menembakkan sinyal listrik dan kimiawi dalam kecepatan kilat. Di dalam ruang tengkorak kita yang sempit itu, tidak ada apa-apa selain badai petir mikroskopis yang sangat berisik, acak, dan penuh chaos. Timbul sebuah misteri besar: bagaimana mungkin kekacauan listrik yang buta itu bisa berubah menjadi memori tentang aroma kopi pagi ini, atau rasa rindu pada seseorang?
Di sinilah kita tiba pada apa yang oleh para ilmuwan dan filsuf disebut sebagai The Hard Problem of Consciousness, atau masalah tersulit tentang kesadaran. Kita bisa menjelaskan secara mekanis bagaimana mata menangkap cahaya, atau bagaimana otak mengenali pola wajah. Itu urusan biologi dasar. Tapi, sains masih sering garuk-garuk kepala ketika ditanya: kenapa semua proses biologis itu harus terasa seperti sesuatu? Kenapa warna merah itu rasanya "merah"? Bayangkan miliaran sel otak kita seperti miliaran orang di sebuah stadion raksasa yang berteriak-teriak sendiri secara acak. Sangat berantakan. Faktanya, tidak ada satu pun sel saraf tunggal yang punya kesadaran. Sebuah sel saraf tidak tahu apa itu patah hati, tidak tahu cara membayar pajak, dan sama sekali tidak tahu siapa diri kita. Lalu, jika tidak ada satu pun bagian dari otak kita yang sadar, bagaimana mungkin gabungan dari mereka tiba-tiba bisa menulis puisi dan mempertanyakan eksistensinya sendiri?
Jawabannya ternyata bersembunyi tepat di balik kekacauan itu sendiri. Kesadaran kita bukanlah sebuah benda yang menempati ruang, melainkan sebuah peristiwa. Dalam sains kompleksitas, ada sebuah konsep menakjubkan yang disebut emergence atau kemunculan. Mari kita ambil contoh air. Satu molekul H2O tidak punya sifat "basah". Namun, ketika miliaran molekul H2O berkumpul dan berinteraksi dalam kondisi tertentu, tiba-tiba muncul sebuah sifat baru: kebasahan. Otak kita bekerja dengan prinsip yang sama. Kesadaran kita, si "aku" yang utuh ini, adalah hasil langsung dari emergence. Pikiran kita lahir bukan dari satu pusat komando di otak, melainkan sebuah harmoni yang mekar dari chaos. Bayangkan sebuah orkestra simfoni berskala raksasa, tapi tanpa dirigen. Setiap neuron menembakkan listriknya secara liar. Namun, karena jaringan evolusi selama miliaran tahun, kekacauan listrik itu saling mengunci, beresonansi, dan melahirkan sebuah melodi tunggal yang luar biasa indah. Melodi ilusi itulah yang kita sebut sebagai "kesadaran diri". Ya, pikiran kita benar-benar dirajut dari murni kekacauan.
Mengetahui fakta ini mungkin awalnya terasa sedikit mengintimidasi bagi sebagian dari kita. Realitas bahwa "saya" hanyalah ilusi dari miliaran sel tanpa nama yang sedang bergotong royong bisa terdengar mengerikan. Tapi bagi saya pribadi, fakta sains ini justru sangat membebaskan dan penuh empati. Kita bukanlah sekadar mesin daging yang dingin. Kita adalah sebuah badai listrik yang berhasil berevolusi menjadi sebuah alam semesta mini; entitas yang bisa merasakan sedih, tertawa terbahak-bahak, dan menyimpan harapan. Jadi, saat teman-teman sedang merasa kewalahan, stres, atau sedang overthinking, ingatlah fakta kecil ini. Pikiran kita memang pada dasarnya lahir dari sebuah kekacauan. Jadi, sangat wajar jika kadang-kadang isi kepala kita terasa berantakan dan bising. Tarik napas panjang. Rasakan keajaiban momen saat ini. Dari chaos biologi yang gelap gulita di dalam tengkorak itu, kita diberi hadiah terbesar oleh proses evolusi alam semesta: kemampuan untuk menyadari bahwa kita hidup. Mari kita nikmati keajaiban itu bersama-sama.